
Beberapa hari ini, pesan singkat (SMS) melalui telepon seluler beredar yang bernada santet. Isinya adalah "Info: kalau ada no hp 0866, 0666, 9846xxx atau nomor hp warna merah yang menelpon jangan diangkat. Di Jakarta, Batam dan Bengkalis ada yang mati garagara menerima telpon tersebut. Katanya lagi uji ilmu hitam".
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menduga ada praktik persaingan bisnis tidak sehat. "SMS ini bisa jadi bukan promosi untuk operator telepon seluler dimaksud, tapi sebaliknya persaingan yang tidak sehat. Sebab masyarakat yang percaya akan berpikir wah, tidak mau menggunakan nomor itu. Nah di sini kami menengarai ada peraingan bisnis yang tidak sehat. Kami masih menunggu dampaknya, kalau memang beasr akan kami selidiki," ujar Heru Sutadi kepada Persda Network, Jumat (9/5).
Nomor kode 0866 dan 0666 disebut-sebut merupakan nomor awal ponsel dari satu operator GSM pendatang baru yang gencar promo di dengan tarih murah. Ada pun nomor 9846xxx adalah operator ponsel swasta bertarif murah dan juga gencar promosi dengan teknologi code division multiple access (CDMA).
Sebenarnya, kata Heru, persoalan SMS bernada santet itu bukanlah ranah yang wajib diurusi BRTI. Namun karena meresahkan masyarakat, BRTI punya tanggung jawab moral memberi penjelasan. Secara teknologi, SMS atau telepon melalui telepon seluler tidak mengandung unsur mistik.
"Telepon seluler komsel ini tenologi canggih yang masuk logika, bukan hal-hal yang di luar akal. Mungkin pengirimnya bercanda saja, jadi saya minta masyarakat jangan resah," pinta Heru Sutadi.
Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informasi Perhubungan Basuki Yusuf Iskandar pun menyampaikan pendapat senada. "Saya sendiri tidak percaya informasi yang disampaikan melalui SMS itu. Tidak benar menurut saya, jadi masyarakt tidak perlu resah," ujar Basuki.
Agar masyarakat tidak semakin reah, semua pihak diminta justru tidak membuat isyu SMS tersebut menjadi heboh. Caranya, jangan dikirim ke orang lain. Dengan tidak mengirimkan kepada orang lain berarti masyarakat menganggapnya bukan sesuatu yang sungguh-sungguh. Dan cara itu sekaligus merupakan pembelajaran masyarakat.
"Tidak perlu diitanggapi serius, dan pemerintah tidak akan mengambil sikap serius untuk mengatasinya. Kalau pemerintah sampai serius, orang yang iseng tadi akan kesenangan," ujar Basuki sembari berharap media pun tidak ikut mem-blow-up informasi ini.